Minggu, 04 November 2012

Akhlak Terpuji Sahabat Nabi Saw.


Saya ingin berbagi cerita kepada Anda. Tak ada salahnya jika kita berhenti sejenak, menyimak bagaimana kesuksesan Rasulullah mendidik para sahabatnya sehingga memiliki akhlak yang mulia yang patut dicontoh oleh generasi berikutnya.

Yang hendak saya ceritakan di sini adalah tentang Ubadah dan ayahnya, Al-Walid putra Ubadah bin Ash-Shamit, salah satu sahabat Rasulullah yang terkenal. Ayah dan anak itu (Ubadah dan Al-Walid) mempunyai kegemaran menuntut ilmu bersama-sama. Hingga suatu ketika mereka sampai pada daerah yang ditempati kalangan kaum Anshar. Di tempat itu mereka pertama kali bertemu dengan Abu Al-Yusri, salah seorang sahabat Nabi saw., yang ditemani oleh anak laki-laki yang jadi pembantunya.

Bertemu dengan sahabat Rasulullah, bagi ayah dan anak itu, merupakan karunia dan kesempatan yang berharga. Apalagi dalam perjalanannya itu mereka berdua sama-sama sedang mencari ilmu. Sementara itu, Abu Al-Yusri dan pembantunya juga sedang melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu. Hal ini tampak pada barang bawaan si pembantu yang penuh dengan buku dan lembaran kertas “Aku melihat tumpukan kertas yang dijepit yang dibawa mereka,” kata Ubadah bin Al-Walid.

Yang menakjubkan lagi ialah pakaian Abu Al-Yusri dan pembantunya yang sama-sama memakai mantel dan pakaian jenis mu’afiri. Jadi, jika dipandang, keduanya tak tampak perbedaan antara tuan dan pembantu. Abu Al-Yusri tak ingin perlakuan berbeda pada pembantunya. Pun dalam tradisi Arab, pakaian yang serupa saat dipakai dalam menempuh perjalanan akan menunjukkan keserasian dan keindahan.

“Wahai paman,” sapa Al-Walid kepada Abu Al-Yusri, “aku melihat guratan-guratan wajahmu ada bekas kemarahan.”

“Benar,” kata Abu Al-Yusri. Lalu ia bercerita,“Fulan bin Fulan punya hutang kepadaku. Aku telah mendatangi rumahnya. Setelah mengucapkan salam, aku bertanya, ‘Sedang dimana dia?’ Keluarganya menjawab, ‘Dia tidak di rumah.’ Tak lama kemudian muncul bocah kecil, yang tampaknya anaknya, di hadapanku. Aku tanyai bocah itu, ‘Di mana ayahmu?’ Bocah itu menjawab, ‘Ketika ayah mendengar suaramu, dia sembunyi di kamar ibu.’ Lalu aku berteriak keras, ‘Ayo keluarlah kamu, aku tahu kamu ada di mana.’ Tak lama kemudian laki-laki itu keluar dari tempat persembunyiannya.

Setelah muncul di hadapanku, aku tanya dia, ‘Kenapa kamu sembunyi?’

‘Demi Allah,’ sumpah lelaki itu, ‘aku sebenarnya ingin bicara denganmu dan tak ingin membohongimu. Demi Allah, yang aku takutkan saat bicara denganmu adalah saat aku membohongimu. Aku telanjur berjanji kepadamu, tapi aku mengingkarinya. Sedangkan kamu adalah sahabat Rasulullah. Aku sendiri, demi Allah, saat ini masih kesulitan ekonomi.’

‘Demi Allah, apa yang kamu katakan itu benar?’ aku menyumpah lelaki itu. ‘Demi Allah, benar!” jawab lelaki itu.

Tiga kali aku menyumpah lelaki itu itu. Tiga kali dia menjawabnya sama.

‘Baiklah’, kataku akhirnya, ‘ini catatan hutangmu aku hapus dengan tanganku sendiri.’

Kataku lagi: jika suatu saat kamu ada rezeki untuk melunasi hutangmu, bayarlah segera. Jika tidak, hutangmu tetap kubebaskan. Sungguh, aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri (sambil menunjuk matanya), aku telah mendengar dengan telingaku ini, dan hatiku menerimanya dengan bahagia (sambil menunjuk hatinya), ketika Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa yang menangguhkan hutang orang yang tak mampu, atau menghapus hutangnya, Allah akan menaunginya dengan naungan-Nya. ‘”

Setelah menyimak cerita ini Abu Ubadah bin Walid berkata, “Wahai paman, sendainya kamu mengambil mantel milik pembantumu, kemudian kamu menggantinya dengan pakaian jenis mu’afiri, atau kamu mengambil mu’arifi-nya si pembantu lalu kamu memberinya mantel, maka baju yang kalian kenakan akan sama-sama serasi.”

Abu Al-Yusri mengusap kepala Abu Ubadah lalu berkata, “Semoga Allah melimpahkan keberkahan pada kita. Wahai putra saudaraku, sungguh, aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri (sambil menunjuk matanya), aku telah mendengar dengan telingaku ini, dan hatiku menerimanya dengan bahagia (sambil menunjuk hatinya), ketika Rasulullah saw. bersabda, ‘Berikanlah mereka makanan seperti yang kalian makan. Berikanlah mereka pakaian seperti yang kalian pakai.’ Harta yang aku berikan pada seseorang lebih mudah bagiku daripada seseorang akan mengambil kebaikanku pada hari kiamat.”

Kisah yang saya terjemahkan dari hadis Shahih Muslim ini mengandung pelajaran agar seseorang senantiasa menuntut ilmu dengan teliti, dengan tidak mengenal batas usia dan waktu. Juga mencontohkan bagaimana beretika yang mulia, menghapus perbedaan dan memberikan penghormatan bagi yang “di bawah”, memberikan kelonggaran bagi orang yang hutang serta menunda pembayarannya bagi yang masih dililit kesulitan ekonomi.

Wallahua'lam 

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;